Cari Blog Ini

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label cobaan hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cobaan hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2012

Ketika Jodoh Tak Kunjung Tiba

Sebagai orang beriman, salah satu hal yang harus kita yakini bahwa hanya Allah swt yang menentukan jodoh kita. Bahwa kita dilahirkan bersamaan dengan ketetapan jodoh yang terbaik menurut Allah swt. Di dalam doa-doa kita, khususnya bagi yang belum menikah, selalu terungkap doa agar Allah swt menyegerakan jodoh di dunia yang fana ini. Lalu bagaimana jika jodoh tak kunjung tiba? Padahal hampir setiap saat, kita selalu memintanya kepada Allah swt, Sang Maha Kaya dan Pencipta segala sesuatu. Tapi mengapa jodoh tetap tak kunjung datang?

Kalau sudah begini, jangan pernah sekalipun terlintas dalam pikiran kita, untuk berprasangka buruk kepada Allah swt. Na’udzubillah min dzaalik. Justru, kita harus instropeksi pada diri sendiri. Sudahkah kita melakukan ikhtiar untuk menjemput jodoh yang sesuai dengan cara-cara Rasulullah saw? Berikut beberapa nasehat tentang jodoh yang tak kunjung tiba dari Ust. Ihsan Hakim

1. Niat yang Baik
Niat yang baik maksudnya jika hendak melakukan sesuatu, tidak cukup hanya sekedar niat. Tetapi harus diikuti dengan langkah-langkah atau perbuatan yang akan mewujudkan niat tersebut. Jadi, kalau memang kita ingin menjemput jodoh, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan hal itu. Salah satunya, mencari ilmu tentang jodoh atau misalnya menabung untuk biaya pernikahan.

2. Mengubah Pemahaman
Selama ini ikhwan memiliki hasrat untuk menjemput jodoh. Bagaimana kalau jodoh yang mencari ikhwan? Begitu juga dengan akhwat, yang memiliki kecenderungan menunggu jodoh. Ternyata tidak ada salahnya kalau akhwat berinisiatif menjemput jodoh. Ikhwan yang ingin jodoh menjemput dirinya, maka harus melakukan perbaikan diri, seperti meningkatkan keilmuan dan keshalihan. Begitu juga dengan akhwat yang ingin menjemput jodoh. Salah satunya adalah menabung. Karena jaman sekarang tidak hanya ikhwan yang wajib menanggung beban biaya pernikahan. Tapi akhwat juga punya tanggung jawab. Kita tahu bagaimana, Siti Khadijah yang tertarik lebih dulu kepada Muhammad. Waktu itu beliau belum mendapat tugas kerasulan. Tapi karena keluhuran akhlaknya, maka Khadijah pun ingin menjadikan Muhammad sebagai suaminya. Soal biaya, jelas Khadijah mampu karena dia seorang janda yang kaya raya. Kondisi sekarang, ikhwan banyak yang sudah siap secara fisik dan keilmuan, tapi dana belum mencukupi. Karena itu tidak ada salahnya kalau akhwat juga menabung dan turut menanggung biaya pernikahan.

3. Meminta bantuan orangtua, keluarga atau orang lain.
Selama ini orangtua selalu menanyakan kapan kita akan menikah. Sekarang kita balik dengan meminta orangtua untuk mencarikan jodoh buat kita. Bisa juga meminta bantuan saudara, atau teman. Tentunya mereka yang dimintai bantuan sudah paham dengan kriteria jodoh yang kita inginkan. Atau, kita membantu orang lain untuk menjemput jodoh. Karena ada hadits yang menyatakan, muslim yang baik adalah yang bermanfaat bagi muslim lainnya. Insya Allah dengan banyak membantu orang lain untuk menjemput jodohnya, maka Allah swt akan menyegerakan bertemu dengan jodoh kita.

4. Berdoa
Kalau selama ini kita sering berdoa untuk kebaikan diri sendiri, maka cobalah untuk mendoakan orang lain. Doakan orang lain agar dimudahkan untuk menjemput jodohnya. Karena jika seseorang mendoakan orang lain, yang orang tersebut tidak mengetahui kalau dirinya didoakan, maka para malaikat akan mendoakan hal yang sama untuk orang yang mendoakan.

5. Tawakal
Serahkan segalanya kepada Allah swt. Tawakal itu harus berkhusnuzhon kepada Allah swt. Ada dua kehendak Allah yang harus kita yakini. Kehendak qauniyah dan syar’i. Pada dasarnya, Allah swt menghendaki kita menikah. Karena menikah merupakan perbuatan baik. Tidak mungkin Allah menjerumuskan kita kepada hal-hal yang tidak baik. Tapi kehendak qauniyah kita sendiri membuat kita malas, tidak membuka diri, ada yang datang tapi kita menolak. Inilah kehendak qauniyah kita.
Ketika kita sudah sangat berhati-hati menaiki atap rumah namun akhirnya terjatuh juga, maka ini adalah kehendak syar’i Allah swt. Tapi ketika kita tidak berhati-hati lalu terjatuh, ini adalah kehendak qauniyah.
Kaitannya dengan menikah, kita sudah meniatkan untuk itu dan merasa sudah tawakal kepada Allah swt. Tapi ternyata, kita lebih sering tidak khusnuzhon kepada Allah swt. Padahal Allah swt selalu menginginkan segala kebaikan kepada kita. Hanya kita tidak menyikapi kebaikan Allah swt itu dengan baik.

6. Amalan
Puasa sunnah. Tapi jangan niat puasa sunnah untuk menjemput jodoh. Tetap niatkan untuk beribadah kepada Alah.
Sholat tahajjud dan banyak berdoa kepada Allah swt. Dibolehkan menyebutkan amalan-amalan yang sudah dilakukan dalam doa kita. Misal, Ya Allah semoga amal puasa yang sudah hamba lakukan, dapat menyegerakan jodoh yang terbaik menurut Engkau. Banyak Istighfar. Banyak berinfaq. Dan jangan pernah berputus asa. “Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila Dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa". (Qs. al-Israa:83)
Karena berputus asa akan membuat kita terputus dari rahmat Allah swt. Putus asa sering dipicu karena kita memiliki sedikit saja prasangka buruk kepada Allah swt. Misalnya, seorang akhwat sudah merasa Allah swt menjadikan dia perawan tua, karena hingga usia yang sudah cukup matang, jodoh masih tak kunjung tiba. Maka Allah pun menjadikannya seperti itu. Namun jika dia optimis, Allah swt pasti akan menolongnya.

Jadi intinya bagaimana kita menyikapi jodoh yang tak kunjung tiba adalah jangan pernah sedikit pun kita berprasangka buruk kepada Allah swt. Dalam hadits qudsi Allah swt berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”.



Disalin dari : djakarta.or.id
atau klik di sini: sumber

Minggu, 25 Desember 2011

Arti Sahabat Dalam hidup

"Apa yang ada dalam Jiwa tunggal, tinggal dalam dua tubuh?" - AristotelesPersahabatan sejati mungkin hanya hubungan yang bertahan cobaan dan kesengsaraan waktu dan tetap tanpa syarat. Sebuah perpaduan unik dari kasih sayang, kesetiaan, cinta, hormat, kepercayaan dan beban yang menyenangkan mungkin apa yang menjelaskan arti sebenarnya dari persahabatan. Minat yang sama, saling menghormati dan keterikatan yang kuat dengan satu sama lain adalah apa yang teman-teman berbagi antara satu sama lain. Ini hanya sifat-sifat umum dari persahabatan. Untuk mengalami apa yang persahabatan, seseorang harus memiliki teman sejati, yang memang harta karun langka.Persahabatan adalah perasaan nyaman dan keamanan emosional dengan seseorang. Ini adalah ketika Anda tidak harus menimbang pikiran dan kata-kata mengukur, sebelum menjaganya agar tetap sebagainya sebelum teman Anda. Ini adalah ketika seseorang tahu Anda lebih baik dari diri sendiri dan meyakinkan untuk menjadi sisi Anda dalam setiap krisis emosional. Ini adalah ketika Anda bisa tidur berjuang dan mendapatkan pagi lain dengan pemahaman yang lebih baik. Persahabatan jauh melampaui jelajah bersama dan berbagi momen-momen yang baik, adalah ketika seseorang datang untuk menyelamatkan Anda dari fase terburuk dalam hidup. Persahabatan adalah abadi.Orang yang berbeda memiliki definisi yang berbeda dari persahabatan. Untuk beberapa, itu adalah kepercayaan seseorang bahwa dia / dia tidak akan menyakiti Anda. Bagi orang lain, itu adalah cinta tanpa syarat. Ada beberapa yang merasa persahabatan yang persahabatan. Orang-orang membentuk definisi yang didasarkan pada jenis pengalaman yang mereka miliki. Ini adalah salah satu relasi yang telah dipelihara sejak zaman dahulu. Ada cerita terkenal tentang teman-teman dalam mitologi agama-agama berbeda di seluruh dunia. Mereka mengatakan orang yang telah menemukan seorang teman yang setia telah menemukan harta yang tak ternilai.Secara psikologis, persahabatan dapat didefinisikan sebagai "hubungan yang dinamis, timbal balik antara dua individu. Sebagai anak-anak menjadi teman, mereka menegosiasikan batas-batas di mana kedua fungsi mitra. Ini membantu mereka untuk berfungsi seperti orang sehat dalam hidup karena mereka belajar menggambar garis sebagai dan bila diperlukan dalam suatu relasi. Hal ini sangat membantu dalam perkembangan emosional individu. Namun, hubungan setiap kebutuhan pemeliharaan konstan dan pengembangan dari semua orang yang terlibat dalam satu. Persahabatan tidak dapat bertahan hidup jika satu orang membuat semua upaya untuk mempertahankannya tanpa saling pengakuan dari orang lain.Karena persahabatan dimulai saat anak mulai bersosialisasi, jenis teman-teman yang memilih anak harus dijaga sampai saat ia / dia belajar untuk membedakan antara benar dan salah. Rekan-rekan yang salah atau kurangnya sosialisasi dapat menyebabkan trauma psikologis berat dan gangguan, akhirnya mengarah pada ketidakmampuan menyesuaikan diri sosial. Kelompok sebaya yang benar adalah penting untuk pengembangan kepribadian anak. Kedua pengalaman positif dan negatif menyempurnakan kepribadian individu. Jadi, penting bahwa Anda menemukan teman yang kompatibel dengan Anda secara emosional dan psikologis.

sumber: